Desakita.co – Imbas pintu Dam Karet Jatimlerek yang jebol dirasakan hingga ke Desa Tanggungkramat, Kecamatan Ploso.
Lahan seluas 150 hektare terancam nganggur.
Saat ini yang semestinya sudah memasuki musim tanam kedua padi, namun kebutuhan air tak tercukupi.
Kades Tanggungkramat Widha Dwi Priyanto mengatakan, kondisi saluran di tempatnya memang mengering setelah terkena imbas pintu dam karet yang jebol. Air tak bisa mengalir ke saluran dengan lancar.
”Ya, di Tanggungkramat termasuk wilayah terdampak di hulu Kecamatan Ploso,” katanya kemarin.
Selama ini, pengairan sawah di tempatnya memang hanya mengandalkan air dari Sungai Brantas.
Sejak pintu dam karet diketahui jebol, kini petani mulai kesulitan mendapat kiriman air.
”Sebagian lahan sekarang sudah siap tanam, lainnya baru persiapan,” imbuh dia.
Dalam catatannya, luas lahan pertanian ada 150 hektare. Sebagian besar sudah siap ditanami padi.
”Berhubung pengairan sawahnya terganggu, sekarang belum banyak yang ditanami,” tutur Widha.
Kendati begitu, dia menyebut sudah ada pertemuan lebih lanjut membahas suplai pengairan sawah.
Disampaikan pengairan provinsi akan membantu pompa. Air dari Sungai Brantas itu bakal dipompa dan dialirkan ke saluran.
”Harapan kami persoalan utama di pintu dam bisa segera selesai. Biar biaya petani tidak terlalu banyak, karena tahu sendiri air sangat diperlukan,” tambahnya.
Terpisah Kepala Dinas PUPR Jombang Bayu Pancoroadi, melalui Kabid Sumber Daya Air (SDA) Sultoni, salah satu penanganan imbas pintu dam yang jebol itu dengan mendatangkan mesin pimpa mobile.
Meski begitu, kondisi debit air nanti tidak sama dengan kondisi normal. “Karena sifatnya darurat,” katanya.
Pompa itu merupakan pompa yang biasa dipergunakan untuk penanganan banjir.
Teknisnya bakal mengambil air dari Sungai Brantas dan dialirkan ke Saluran Primer Jatimlerek.
”Fokus yang sudah ditanami padi itu diselamatkan. Untuk sawah yang belum tanam, disarankan tanam yang tidak butuh banyak air,” pungkas Sultoni. (fid/bin)












