Desakita.co – Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito dikenal sebagai Kampung Martabak.
Itu karena banyaknya penduduk Desa Mentoro yang berjualan martabak.
Sebagai bentuk dukungan, Pemdes Mentoro bersama pedagang kompak menyelenggarakan festival martabak satu tahun sekali pada Agustus.
”Di sini banyak pedagang martabak, kurang lebih ada 125 pedagang martabak asal Mentoro,” ungkap Mahfudz Efendi, kepala Desa Mentoro.
Desa Mentoro hanya memiliki satu dusun, yaitu Dusun Mentoro.
Jumlah penduduk Desa Mentoro sekitar 2.800 jiwa, dari sekitar 900 keluarga.
Baca Juga: Eksis Sejak 1969, Desa Mentoro Jombang Jadi Kampung Sentra Martabak
Secara geografis, wilayah Desa Mentoro tidak terlalu luas. Bahkan masuk dalam lima desa terkecil dari 21 desa yang ada di Kecamatan Sumobito.
Mayoritas penduduk Desa Mentoro bermatapencaharian petani, sebagian juga pedagang.
Utamanya pedagang martabak. Saking banyaknya penduduk Mentoro yang menekuni usaha martabak, sampai-sampai Desa Mentoro dikenal sebagai Kampung Martabak.
Ada 125 lapak martabak Mentoro yang tersebar di wilayah Kabupaten Jombang. Jumlah pekerjanya juga lebih dari 125 orang. ”Karena tidak mungkin satu lapak dikerjakan satu orang,” ungkapnya.
H Ruslan, yang kini telah meninggal dunia dipercaya sebagai salah satu perintis Kampung Martabak.
Saat itu H Ruslan merantau ke Surabaya, bekerja bersama orang India untuk berjualan martabak.
Setelah memiliki bekal ilmu yang cukup, H Ruslan membuka sendiri usaha martabaknya, dan mengajak sejumlah pemuda desa untuk membantunya berdagang martabak di Surabaya.
”Karyawannya bisa, disuruh buka usaha sendiri. Ajak lagi orang baru, bisa buka lagi, begitu seterusnya,” jelasnya.
Yang tadinya martabak warga Mentoro banyak di jual di Surabaya, merambah hingga Kalimantan.
Lambat laun, karena biaya hidup yang makin tinggi, dan sulitnya mencari lapak baru di kota besar, banyak pedagang yang pulang kampung dan merintis berjualan di Jombang.
”Kok merasakan jualan di kampung juga enak, hanya harus jalan lebih jauh saja, tapi tidak perlu bayar sewa kos dan lain sebagainya, akhirnya banyak yang ikut pulang kampung dan sekarang banyak yang jualan di Mojokerto, Mojoagung, Jombang, Ploso,” ungkapnya.
Mentoro yang kemudian dikenal sebagai Kampung Martabak, menggugah semangat Mahfudz untuk semakin menggaungkannya.
Salah satu upaya yang dilakukan yaitu mengajak para pedagang untuk menggelar sebuah acara yang tujuannya sebagai bentuk syukur atas rezeki yang telah didapatkannya selama satu tahun.
Tercetuslah festival Martabak yang diadakan setiap bulan Agustus.
Melalui semangat gotong royong antarpedagang, dibantu sebagian melalui anggaran dana berkadang, serta sponsor, festival Martabak 2024 ini memasuki tahun ketujuh.
”Tujuannya bentuk rasa syukur, khususnya untuk sedekah kepada warga Mentoro, jangan sampai warga kampung martabak belum pernah merasakan martabak tetangganya sendiri,” katanya.
Dalam kegiatan itu, martabak dibagikan gratis kepada warga, satu KK satu paket martabak.
Lambat laun, festival tersebut memiliki daya tarik bagi warga luar desa.
Akhirnya, pemdes dan pedagang sepakat untuk menjual murah martabak ketika event berlangsung.
”Bahkan dulu ketika pandemi, festival tetap berlangsung, martabak diantar ke rumah-rumah warga,” ungkap kepala desa yang menjabat tiga periode sejak 2007 tersebut. (ang)












