Asal-UsulLifestylePemerintahanPotensiWisata

Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon Uri-Uri Budaya, Lestarikan Kearifan Lokal

×

Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon Uri-Uri Budaya, Lestarikan Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
TRADISI: Masyarakat Kelurahan Blooto berdoa bersama di Makam Mbah Jimat dalam tradisi nyadran yang menjadi agenda tahunan yang digelar setiap bulan Ruwah.

Desakita.co – Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto terus mengembangkan diri menjadi kampung budaya.

Beragam tradisi warisan leluhur masih tetap diuri-uri hingga kini.

Pun dengan kearifan lokal yang juga terpelihara kelestariannya.

Salah satu tradisi yang kini mampu menjadi daya tarik masyarakat adalah agenda nyadran.

Ritual tahunan yang digelar setiap bulan Ruwah dalam kalender Jawa ini merupakan tradisi yang diwariskan dari nenek moyang masyarakat Kelurahan Blooto, khususnya warga di Lingkungan Kemasan.

Baca Juga:  Kelurahan Blooto, Kecamatan Prajurit Kulon, Rawat Resep Kue Serabi

”Tradisi nyadran ini sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat,” ungkap Lurah Blooto Wahyudi.

Nyadran diawali dengan kirab budaya dan mengarak tumpeng ageng keliling lingkungan.

Gunungan tumpeng tersebut diarak keliling lingkungan yang diiringi dengan kesenian reog hingga pawai budaya dengan mengenakan pakaian adat menuju makam sesepuh Mbah Jimat.

Baca Juga:  Dianggap Bisa Mengaburkan Sejarah, Warga Tiga Desa di Jombang Sepakat Bongkar Makam Palsu

Di lokasi tersebut, ratusan warga berkumpul untuk bermunajat dan diakhiri dengan kenduri bersama.

”Kegiatan nyadran ini juga meningkatkan guyub rukun masyarakat yang beragam latar belakang dan profesi,” tuturnya.

Wahyudi menambahkan, tahun ini kemeriahan dalam pelaksanaan tradisi ruwatan juga berlangsung di Lingkungan Trenggilis dan Lingkungan Blooto.

Baca Juga:  Wujud Nyata Tingkatkan Pelayanan Publik, RSUD Jombang Borong Penghargaan Jombang Bureaucracy Award 2024

Meski digelar dalam waktu yang berbeda, namun tetap dilaksanakan dalam bulan yang sama. Yakni, jelang bulan puasa Ramadan.

”Jadi, di tahun ini kemeriahannya di tiga lingkungan. Ini menjadi bukti bahwa masyarakat masih merawat dan menjaga kelestarian dari tradisi yang selama ini telah ada,” paparnya. (ram/ris)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *