Desakita.co – Tak hanya kearifan lokal, semangat kegotongroyongan juga masih terpelihara di Kelurahan Blooto.
Karenanya, tradisi-tradisi yang berlandaskan kerukunan menjadi bagian dari keseharian di tengah masyarakat.
Keguyuban masyarakat di Kelurahan Blooto dapat dijumpai dalam tradisi soyo.
Secara sukarela, warga akan saling membantu kepada orang lain yang sedang membangun rumah tinggal.
Terutama saat bubak bumi alias membuat fondasi maupun munggah kudo atau membangun atap.
”Masyarakat menjunjung tinggi nilai sosial. Itu yang berupaya kita pelihara di Kelurahan Blooto ini,” papar Lurah Blooto Wahyudi.
Di samping itu, warga juga saling mempererat silaturahmi saat peringatan hari besar keagamaan juga kerukunan.
Antara lain dengan masih eksisnya tradisi sakbanan, barikan, maulidan, hingga tradisi unjung-unjung saat Hari Raya Lebaran.
Masyarakat juga bersedekah saat hari Rabu Wekasan dan membagikan bubur ketika bulan Safar.
”Tradisi-tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat ini akan semakin menambah nilai guyub dan kerukunan warga,” tandas dia.
Dengan luas wilayah 178 hektare, sekitar 40 hektare persen wilayah Kelurahan Blooto berupa persawahan.
Karena itu, hingga kini juga masih dijumpai tradisi keleman yang dilakukan oleh petani jelang musim tanam padi. (ram/ris)









