Potensi

Petani Cabai Merah di Desa Sumberteguh Kudu Jombang Resah, Harganya Turun Hingga Dihantui Serangan Hama

×

Petani Cabai Merah di Desa Sumberteguh Kudu Jombang Resah, Harganya Turun Hingga Dihantui Serangan Hama

Sebarkan artikel ini
DIRAWAT: Petani cabai merah di Desa Sumberteguh, Kecamatan Kudu merawat tanamannya, kemarin (9/3).

Desakita.co – Petani cabai merah di Desa Sumberteguh, Kecamatan Kudu, resah kemarin (9/3).

Menyusul, harga cabai di pasaran cenderung menurun. Belum lagi dampak cuaca ekstrem berpengaruh pada hasil panen.

Seperti yang dirasakan Sunandar petani sekitar. Ia mengatakan, dikarenakan hujan yang tinggi membuat cabai sangat rentan terserang hama lalat buat maupun petek.

”Ya harus disemprot kalau sudah terkena penyakit seperti sekarang,” ujarnya.

Baca Juga:  Enam Desa di Utara Brantas Terdampak Banjir, Imbas Kali Marmoyo Jombang Meluap

Dijelaskan, seperti sekarang beberapa tamananya sudah terkena hama petek dan buahnya terserang lalat buah.

Itu bisa terlihat sebagian daun yang kriting dan rontok karena membusuk. ”Kalau kondisinya seperti ini hasil panen juga menurun,” katanya.

Saat musim hujan, lanjut Sunandar, dilakukan penyemprotan secara masif untuk menanggulangi hama jamur.

Baca Juga:  Potensi Lele Melimpah, KKN 183 UMM Dorong UMKM Desa Diwek Jombang Naik Kelas

Penyemprotan menggunakan obat fungisida dan obat daun agar daunnya bagus.

“Ya membuat petani cabai was-was. Karena penyakit petek itu belum ada obatnya, jadi petani cabai melakukan pencegahan dengan cara disemprot secara berkala,” terangnya.

Dalam sekali panen biasanya cabai yang didapatkan mencapai 210 kilogram (kg).

”Kalau panen ini sepertinya tidak sampai. Mungkin hanya 150 kg. Semoga bisa lebih,” bebernya.

Baca Juga:  Inovatif! Desa Made, Kecamatan Kudu Genjot Pembangunan Jalan Lingkungan dari DD 2025

Dirinya mengungkapkan, dalam waktu dekat panen cabai kedua. Hanya saja, harganya tidak sebagus panen pertama kemarin.

Karena harganya sekarang turunya hingga 2 kali lipat. ”Kemarin itu bisa laku Rp 70 ribu per kg. Sekarang hanya 30 ribu per kg.

Tapi untuk petani harga segitu masih bagus dan masih dapat untung,” pungkasnya. (yan/ang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *