Desakita.co – Usia tidaklah suatu penghalang untuk menimba ilmu.
Ini dibuktikan pegiat sampah, kader PKK dan kader posyandu di Desa Sumber Girang Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto.
Mereka diajak belajar membuat pupuk organik dari sampah rumah tangga
’’MEMANG kami sedang belajar untuk membuat pupuk organik di Balai desa Sumber Girang, Sabtu (26/7) kemarin lusa,’’ kata Rina Subekti Direktur Bank Sampah Desa Sumber Girang.
Ia menyebutkan, sedikitnya 60 orang mengikuti pelatihan tersebut. Mereka berasal dari petugas sampah, kader PKK hingga posyandu.
Dijelaskannya, puluhan peserta tersebut diajak mengikuti dan mempelajari pembuatan pupuk organik yang memiliki berbagai manfaat.
’’Sebagian besar yang ikut wanita paruh baya,’’ ujarnya saat dikonfirmasi di kantor Bank Sampah Desa Sumber Girang.
Pihaknya mengaku salut dengan semangat ibu-ibu pegiat sampah hingga kader PKK yang ikut pelatihan ini.
Meski butuh menyempatkan waktu dan tenaga di sela-sela bertugas, para peserta sangat memperhatikan pelatihan yang perdana digelar tersebut.
’’Semangatnya yang sangat kami apresiasi. Beliau-beliau ini dengan sadar dan iklas bergerak untuk lingkungannya,’’ imbuh Rina.
Lanjut Rina, peserta yang hadir dilatih untuk membuat pupuk organik dari bahan sampah rumah tangga.
Mulai sampah sayuran, nasi bekas dan sampah tulang ayam. Pelatihan ini juga atas dasar keinginan warga untuk membuat pupuk yang simpel, murah dan apalagi bebas dari bahan kimia. Terlebih, Bank Sampah Desa Sumbergirang juga mendapat bantuan mesin pencacah atau tracer.
’’Pelatihan ini kami berkolaborasi dengan Wehasta Trawas,’’ tegasnya.
Dalam pelatihan ini, pihaknya diajari proses membuat pupuk organik secara detail.
Mulai pencampuran sampah rumah tangga seperti sayuran yang kemudian dicampur dengan dolomit, garam, arang sekam hingga komposer dengan alat tracer tersebut.
’’Dengan pelatihan ini, kami diajarkan proses pembuatan pupuk dan mengoperasikan alat tracer-nya,’’ ungkap Rina.
Sisyantoko, Direktur Wehasta Trawas menjelaskan untuk pembuatan pupuk organik dari sampah rumah tangga yang mudah dan cepat memang harus menggunakan alat pencacah atau tracer.
Sebenarnya bisa saja, tidak menggunakan tracer, namun hasilnya kurang maksimal bahkan bisa memakan waktu yang lama.
’’Tracer ini tujuannya yakni membuat sampah menjadi partikel yang lebih kecil bahkan bisa lebih halus,’’ terangnya.
Pihaknya menambahkan, partikel yang lebih kecil akan lebih mempermudah proses pembuatan pupuk dan prosesnya lebih cepat jadi ditambah dengan komposer remen.
’’Jika dengan menggunakan metode ini, minimal 7 hari sudah bisa di aplikasikan,’’ tegas Cak Toko sapaan akrabnya.
Kepala Desa Sumbergirang, Siswahyudi mengaku juga mengapresiasi atas kinerja para pegiat sampah dan kader-kader PKK dan posyandu yang semangat untuk mengikuti pelatihan.
’’Kami bangga dengan semangat beliau-beliau semua,’’ imbuhnya.
Lantaran, di usianya yang tidak lagi muda, para kader tersebut masih ikut dan peduli dalam mengurangi sampah dan berproses untuk hidup sehat, khususnya di Desa Sumbergirang.
Dia menegaskan, dengan adanya bank sampah yang ada di daerahnya bakal memberi banyak manfaat, baik itu di lingkungan dan dalam perekonomian.
Dalam segi lingkungan, sekarang warga mulai banyak yang sadar memilah dan membuang sampah pada tempat yang seharusnya.
Selain itu, lingkungan akan makin bersih dan menyehatkan pula. Ditambah lagi, sampah ternyata mempunyai nilai ekonomi.
’’Ada sekitar 250 warga yang menjadi nasabah Bank sampah. Dan biasanya, setiap mau hari raya mereka akan mencairkannya. Mulai Rp 50 ribu bahkan hingga 500 ribuan,’’ ungkapnya.
Dengan adanya Bank Sampah dan pelatihan pembuatan pupuk organik dari sampah rumah tangga ini, pihaknya juga berharap bisa memberikan ilmu baru yang bermanfaat sekaligus aplikatif.
’’Intinya Pemerintahan Desa Sumbergirang sangat mendukung jika itu bisa memberikan dampak positif, apalagi bisa meningkatkan perekonomian masyarakat,’’ pungkasnya. (dik/fen)





