Lifestyle

Perjalanan Karier dr Dian Fathul Jannah, dari Puskesmas hingga Ketua Komite Mutu RSUD Ploso

×

Perjalanan Karier dr Dian Fathul Jannah, dari Puskesmas hingga Ketua Komite Mutu RSUD Ploso

Sebarkan artikel ini
dr Dian Fathul Jannah SpOG, Ketua Komite Mutu RSUD Ploso, Jombang.

DesaKita.co – Perjalanan hidup Ketua Komite Mutu RSUD Ploso, Jombang, dr Dian Fathul Jannah SpOG, menjadi dokter spesialis kandungan tidak pernah direncanakan sejak awal.

Perempuan kelahiran Banyuwangi ini justru sempat bercita-cita mengambil jurusan hubungan internasional atau desain interior sebelum akhirnya menemukan panggilan hidupnya di dunia medis.

Dian lahir dan besar di Banyuwangi. Pendidikan dasar ditempuh di SD Kepatihan 1 Banyuwangi. Setelah itu SMP Negeri 1 Banyuwangi.

Pendidikan menengah atas ia selesaikan di SMA Negeri 2 Banyuwangi, yang kini dikenal sebagai SMA Negeri 1 Giri Banyuwangi.

Dian kemudian melanjutkan pendidikan kedokteran di Surabaya. Ia menyelesaikan pendidikan dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada 1997.

Menariknya, keputusan memilih kedokteran tidak datang dari dorongan keluarga. Ia justru diarahkan oleh mentor saat mengikuti program bimbingan belajar intensif menjelang ujian masuk perguruan tinggi.

Baca Juga:  Desa Padi, Kecamatan Gondang Tingkatkan Kapasitas Kader Kesehatan

Saat itu, hasil tes menunjukkan kemampuan akademiknya paling menonjol pada bidang biologi sehingga ia disarankan memilih kedokteran sebagai pilihan utama.

’’Awalnya sebenarnya ingin hubungan internasional atau desain interior. Tapi dari hasil tes di bimbingan belajar, nilai saya paling tinggi untuk kedokteran. Akhirnya saya memilih fakultas kedokteran dan ternyata diterima,’’ kenang perempuan kelahiran Banyuwangi 19 Februari 1979 tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikan dokter, Dian mengawali karir sebagai tenaga medis di Kabupaten Jombang. Ia sempat bertugas di beberapa fasilitas kesehatan. Di antaranya di Puskesmas Cukir dan Puskesmas Plandaan.

Pada 2010, ia resmi diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan bertugas di Puskesmas Plandaan.

Di tengah pengabdian sebagai dokter umum, ketertarikannya terhadap bidang kebidanan dan kandungan semakin kuat.

Baca Juga:  Cerita Muhlashon Jalaluddin Warga Desa Pucangsimo Jombang Tinggal di Mesir (1): Tinggal Sejak 1991, Aktif Organisasi NU di Mesir

Pengalaman menangani pasien, terutama saat membantu proses persalinan dan menyelamatkan ibu serta bayi, menjadi titik balik yang menguatkan tekadnya melanjutkan pendidikan spesialis.

Ia kemudian menempuh pendidikan dokter spesialis obstetri dan ginekologi di Universitas Brawijaya Malang pada 2010.

’’Ketika bisa menolong dua nyawa sekaligus, ibu dan bayi, rasanya ada kepuasan tersendiri yang tidak bisa digambarkan,’’ ujarnya.

Dokter yang kini tinggal di Desa Pandanwangi Kecamatan Diwek itu menyelesaikan pendidikan spesialis pada awal 2015. Setelah lulus, Dian menjalani penugasan khusus selama enam bulan di Aceh pada periode 2015–2016.

Setelah menyelesaikan masa tugas tersebut, ia kembali ke Jombang dan sempat bertugas di Puskesmas Plandaan sebelum akhirnya ditempatkan di RSUD Ploso hingga sekarang.

Selain menjalankan tugas utama sebagai dokter spesialis, ia juga mendapat amanah tambahan sebagai Ketua Komite Mutu Rumah Sakit. Posisi yang mengharuskannya terlibat dalam upaya menjaga kualitas layanan kesehatan di rumah sakit.

Baca Juga:  10 Kunci Kesuksesan Menurut KH Fuad Taufiq Alhafiz Tebuireng Jombang, Simak Penjelasannya

Sebelumnya, ia juga pernah menjadi bagian dari tim akreditasi rumah sakit dan bahkan dipercaya menjadi ketua tim tersebut pada periode 2018–2019.

Pada 2017-2019, dia juga menjadi  ketua diklat RSUD Ploso. ’’2020 sampai dengan sekarang menjadi tim audit maternal  perinatal Kabupaten Jombang,’’ ungkapnya.

Di tengah kesibukan di rumah sakit pemerintah, Dian juga memberikan pelayanan di RS Nahdlatul Ulama Jombang. Serta membuka praktik mandiri di wilayah Balongbesuk Diwek Jombang.

Baginya, profesi dokter kandungan bukan sekadar pekerjaan. Ia memaknainya sebagai bentuk amanah untuk membantu masyarakat.

’’Selama masih sehat dan mampu, ilmu yang kita punya sebisa mungkin digunakan untuk memberi manfaat bagi orang lain,’’ tuturnya. (wen/jif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *