Desakita.co – Perjuangan Salamun, 65, warga Dusun Temulawak, Desa Kebontemu, Kecamatan Peterongan Jombang, dalam melunasi biaya perjalanan ibadah haji tak semudah orang pada umumnya.
Ia harus menabung bertahun-tahun dari honornya sebagai jukir sembari membiayai pendidikan kelima anak-anaknya.
”Alhamdulillah, persiapan sudah selesai, Insya Allah berangkat 27 Mei mendatang,’’ ujarnya.
Tak sendirian, ia bakal berangkat haji bersama istri tercinta.
Ibadah ini bakal dijalaninya setelah pria kelahiran 17 Agustus 1958 ini berniat menabung sejak 2005 lalu.
Kala itu, ia punya modal awal hanya Rp 50 ribu dan punya angan-angan berangkat haji bersama istri.
Tak berpikir panjang, ia kemudian berangkat ke tukang kayu untuk membuatkan celengan berbentuk kotak persegi.
Celengan itu berisi beberapa lubang untuk membagi kebutuhannya.
Mulai membayar pendidikan anak, memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berhaji.
Maklum, pendapatannya dari jukir juga tak banyak sehingga dia harus pandai-pandai mengatur keuangan agar lebih efisien.
”Terus saya niat, Bismillahirrahmanirrahim, saya berniat ingin haji, lillahi ta’ala.
Setelah itu saya masukkan uang Rp 50 ribu,’’ kenangnya sambil mengingat ngingat yang pernah dilakukan di masa silam.
Dia lantas menceritakan, tak langsung bisa mengumpulkan uang untuk daftar haji sejak kali pertama menabung.
Bagi jukir seperti dirinya yang mendapat honor pas-pasan, minimal membutuhkan waktu 5 tahun bisa daftar dan mendapatkan nomor porsi haji dengan biaya sekitar Rp 25 juta.
Ia sendiri mulai pemangaku, baru bisa daftar haji sekitar 2011. ”Itu saya kumpulkan selama lima tahun, nabung di rumah, Kemudian Desember 2011 pas hari Jumat, langsung daftar haji setelah saya hitung ulang di dalam kotak ada Rp 25 juta.
Memang saya pilih hari Jumat karena hari baik dan masih banyak yang belum tahu,” ujarnya.
Selama menabung, ia menyampaikan jika pendapatannya tak hanya bersumber dari jukir. Melainkan dari jualan minuman dan rokok dengan sebuah gerobak kecil di tempat ia berjaga parkir.
”Pendapatan tidak banyak. Mulai Rp 50 ribu, 70 ribu atau Rp 80 ribu dalam sehari. Itulah belum dibagi untuk kebutuhan lain-lain,’’ jelas dia.
Jika dipikir-pikir dengan pendapatan tak menentu itu rasanya berat untuk melunasi ibadah haji tahun ini. Namun, jika dilakukan dengan niat sungguh-sungguh, maka selalu ada jalan.
“Kalau dibilang sulit ya, bagaimana namanya kebutuhan pasti ada saja. Tapi jika niat karena Allah SWT pasti ada saja jalannya,’’ terangnya.
Disamping itu, Salamun juga berhasil menguliahkan lima anaknya hingga lulus sarjana.
Anak pertama Sri Udidah lulus dari Universitas Darul Ulum, Rahmad Andik lulus dari Universitas Darul Ulum, Aris Safita lulus dari Universitas PGRI Jombang, Heru Mujito lulus dari STIE PGRI Dewantara dan terakhir Imron Abdul Majid lulus dari Universitas Negeri Malang jalur tes.
”Alhamdulillah sekarang sudah lulus sarjana semua,’’ tambahnya bangga.
Selain menyekolahkan anak, ia juga bisa menyisihkan pendapatannya untuk melunasi biaya pelunasan haji sekitar Rp 66 juta berdua. Ia mengakui, selama 13 tahun lebih menabung untuk biaya pelunasan haji.
”Saya kumpulkan setiap hari dari parkir dan jualan minuman kemasan ini. Alhamdulillah sudah saya lunasi. Mohon doanya semoga lancar,’’ pungkasnya. (ang/bin/ang)












