Lifestyle

Kisah dr Nur Khamidah, Pernah Bercita-cita Jadi Pegawai Bank Kini Jadi Dokter Spesialis Kulit di RSUD Jombang

×

Kisah dr Nur Khamidah, Pernah Bercita-cita Jadi Pegawai Bank Kini Jadi Dokter Spesialis Kulit di RSUD Jombang

Sebarkan artikel ini
dr Nur Khamidah Sp.DVE. (Wenny Rosalina/Radar Jombang)

DesaKita.co – Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa kelak akan mengenakan jas putih sebagai seorang dokter. Saat masih kecil, dr. Nur Khamidah Sp.DVE justru bercita-cita sebagai pegawai bank.

Namun, jalan hidup berkata lain. Berkat arahan kedua orang tuanya, perempuan kelahiran Lamongan, 10 Juni 1983 itu akhirnya menempuh pendidikan kedokteran hingga menjadi dokter spesialis kulit dan kelamin.

”Sebenarnya cita-cita saya dulu bukan dokter. Dulu ingin kerja di bank. Tapi orang tua yang mengarahkan saya. Mulai memilih SMP, SMA sampai kuliah semuanya diarahkan orang tua. Alhamdulillah semua dimudahkan,” tutur putri pasangan M Asykur dan S Marliyah tersebut.

Masa kecil Nur Khamidah banyak dihabiskan di Bali. Ia menyelesaikan pendidikan di SDN 6 Tuban, Kabupaten Badung, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kuta dan SMA Negeri 1 Denpasar.

Setelah lulus SMA pada 2001, ia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana melalui jalur PMDK. Kesempatan itu menjadi berkah tersendiri karena membuat biaya kuliah menjadi jauh lebih ringan. Pada 2007, ia resmi menyandang gelar dokter. Namun perjalanan pengabdiannya baru dimulai.

Baca Juga:  Belum Setahun Dibangun, Plengsengan BBWS di Sekunder Gambiran Desa Betek Jombang Ambrol

Melalui program Pegawai Tidak Tetap (PTT) Kementerian Kesehatan, ia ditempatkan di daerah terpencil. Penugasan pertama di Puskesmas Tamban Catur, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah pada 2008 hingga 2009.

Setahun kemudian, ia kembali menerima penugasan sebagai dokter PTT di Puskesmas Tongkuno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

Pengalaman bekerja di pelosok menjadi bekal berharga dalam memahami pelayanan kesehatan masyarakat.

”Saya belajar bagaimana menjadi dokter yang benar-benar dekat dengan masyarakat. Kalau di daerah, dokter harus siap kapan pun dibutuhkan,” ujarnya.

Pada 2010, ia dipercaya menjadi Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) Embarkasi Ujung Pandang sebagai dokter pendamping jamaah haji.

Meski telah memiliki pengalaman kerja yang cukup panjang, Nur Khamidah merasa masih harus terus belajar.

Baca Juga:  KAUJE Korda Jombang Peduli, Berikan Bantuan Korban Banjir Desa Jombok

Pada 2013 ia memutuskan kembali ke bangku kuliah untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Keputusan mengambil spesialis kulit dan kelamin bukan tanpa alasan. Saat itu dirinya telah berkeluarga dan memiliki anak. Ia memilih bidang yang menurutnya tetap memungkinkan menjalankan profesi sebagai dokter sekaligus hadir untuk keluarga.

”Saya mencari spesialis yang tetap bisa bertemu pasien tetapi tidak terlalu berat jadwalnya. Saya ingin tetap bisa mengurus anak-anak,” ungkapnya.

Pilihan itu ternyata menjadi keputusan terbaik dalam hidupnya. Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis pada 2017, ia mulai berpraktik di berbagai rumah sakit di Jombang, mulai Rumah Sakit NU Jombang, RSUD Ploso, RSI Amal Sholeh hingga akhirnya bertugas di RSUD Jombang sejak 2023.

Baca Juga:  Adakan Pelatihan kepada MGMP Matematika SMP, Upaya Universitas PGRI Jombang Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Selain sebagai dokter di rumah sakit, ia juga membuka praktik mandiri yang melayani dermatologi, venerologi, dan estetika. Menurutnya, perkembangan ilmu kesehatan kulit kini tidak hanya berkaitan dengan penyakit kulit dan kelamin, tetapi juga aspek estetika.

”Sekarang bidang kami dikenal sebagai Dermatologi, Venereologi dan Estetika. Jadi bukan hanya mengobati penyakit kulit, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas hidup pasien melalui perawatan estetika,” jelasnya.

Meski memiliki praktik pribadi, ia tetap mengutamakan tugas sebagai dokter di RSUD Jombang. Setiap pagi ia membuka praktik selama sekitar satu jam sebelum berangkat ke rumah sakit. Selepas bertugas hingga siang hari, ia kembali melayani pasien di klinik hingga sore.

”Saya memang sengaja tidak membuka praktik sampai malam. Saya ingin waktu Maghrib sudah berada di rumah bersama keluarga,” ungkap ibu dua anak ini. (wen/naz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *