Pendidikan

Cerita Rafita Sari Alumnus Universitas PGRI Jombang Lolos Beasiswa S2 di Sydney, Australia

×

Cerita Rafita Sari Alumnus Universitas PGRI Jombang Lolos Beasiswa S2 di Sydney, Australia

Sebarkan artikel ini
Rafita Sari menyempatkan diri berlibur saat di Sydney Australia.

Desakita.co – Rafita Sari memiliki karakter tangguh. Perempuan kelahiran Jombang, 8 Agustus 1996 saat ini tengah menempuh pendidikan S2 di University of New South Wales (UNSW) Sydney, Australia.

Namun, siapa sangka, ia pernah tiga kali gagal melamar program beasiswa S2 di dalam negeri.

Setelah mencoba daftar beasiswa di luar negeri, ia justru diterima di empat universitas ternama sekaligus.

”Setelah lulus S1, saya punya keinginan untuk lanjut S2. Coba lamar beasiswa S2 dalam negeri, tapi ditolak sebanyak tiga kali,” kata alumnus Universitas PGRI Jombang tersebut.

Saat itu ia bekerja sebagai tenaga pendidik Bahasa Inggris di English First Surabaya.

Dari sana ia mulai mendapatkan motivasi melalui para mentor, manager, dan tim akademik yang sangat mumpuni dalam mengajar.

Hal itu membuat Rafita terpacu untuk keluar dari zona nyamannya, mengejar impiannya untuk jadi dosen dengan mencoba peruntungan daftar beasiswa S2 di luar negeri.

”Alhamdulillah, saya diterima di empat universitas ternama sekaligus,” ungkapnya.

Keempat universitas itu di antaranya di Monash University Melbourne, Victoria, Australia, University of Melbourne, University of Queensland Australia, University of New South Wales (UNSW) Sydney Australia.

Baca Juga:  Kisah Inspiratif Abdullah Harits Ahnaf Fiddin Arek Kepanjen Jombang, Masuk Madrasah Ternama di Malang

”Saya menjatuhkan pilihan ke UNSW karena UNSW adalah kampus top 20 di dunia dan terkenal dengan best employability di kancah Australia dan dunia,” kata imbuhnya.

Putri pasangan Mariyono dan Sri Yulaikah ini mengambil konsentrasi master of education, dengan spesialisasi TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages), dengan beasisswa LPDP.

Tidak hanya kuliah, Tita sapaan akrabnya, tidak hanya menjalani perkuliahan saja, tapi juga kegiatan organisasi di kampusnya serta aktif di organisasi LPDP.

Kemampuan berbahasa Inggris menjadi modal utama ketika ingin kuliah di luar negeri. Harus menjalani tes IELTS.

”Itu tes super mahal, sekali tes Rp 3 jutaan, alhamdulillah skor saya waktu itu tujuh, yang mana melebihi dari nilai batas persyaratan,” jelas alumnus MI Al Hikmah Sidowarek, MTs Perguruan Muallimat Cukir, dan SMAN 1 Jombang tersebut.

Syarat lain yang harus dipenuhi adalam terjemah ijazah dan transkrip nilai, surat penerimaan dari kampus luar negeri, konfirmasi pendaftaran dari kementerian pendidikan Australia, asuransi kesehatan mahasiswa internasional, juga Visa.

Beberapa tips lain yang bisa dicoba adalah mengumpulkan prestasi sebanyak-banyaknya, rajin membangun jaringan, banyak tanya ke dosen.

Baca Juga:  Adakan Pelatihan kepada MGMP Matematika SMP, Upaya Universitas PGRI Jombang Tingkatkan Kualitas Pendidikan

”Jurus ampuh adalah caper ke dosen, karena itu yang kulakukan saat S1, tujuannya agar lebih dikenal, dapat nilai bagus tapi diimbangi dengan usaha ya, dan biar dapat info terkini,” ungkapnya sembaru tertawa.

Australia dipilihnya karena negara yang memiliki sistem pendidikan yang bagus di dunia, serta negara yang aman untuk mahasiswa internasional.

Menurutnya, pendidikan di luar negeri dengan di Indonesia sangat berbeda.

Jika selama S1 di Universitas PGRI Jombang, kebanyakan dosen memberikan tugas berupa makalah yang kemudian dipresentasikan.

Sedangkan di Australia, mahasiswa diminta membuat laporan, esai, critical review dan annotated bibliography.

Kita di Australia dituntut untuk belajar mandiri, semua mata kuliah yang kita ambil, materi, hingga lis bacaan yang disiapkan sudah ada bahkan sebelum kuliah dimulai,” jelasnya.

Tujuannya agar mahasiswa sudah siap ketika masuk ke dalam kelas, dengan bacaan yang diberikan atau materi yang sudah diunggah ke aplikasi khusus.

”Semoga someday pendidik di Indonesia bisa seperti itu,” ungkapnya.

Menurutnya, hidup di Australia cukup mudah. Ia mudah menemukan makanan Indonesia, makanan halal, bahkan tempat ibadah di Kampus.

Baca Juga:  Banyak Kasus Hukum di Jombang Libatkan Remaja Sekolah, Ini Kata Dewan Pendidikan Jombang

”Pernah dikira orang Malaysia, bahkan pernah dikira orang Singapura, padahal asli wong jowo Jombang,” ungkap warga Sidowarek, Kecamatan Ngoro yang kini tinggal di Meeks Street, Kingsford, New South Wales ini.

Di awal tinggal di sana, penyuka series dan komik webtoon ini mengalami beberapa culture shock.

Salah satunya waktu salat. Sebab, matahari baru terbenam pukul 19.30.

”Jam lima sore di sini masih sangat terang benderang, jadi Subuhnya pagi banget, Duhur dan Isyanya malam banget,” ungkapnya.

Hari libur, ia biasa mengisi waktu dengan jalan-jalan eksplor Sydney, ke museum, foto-foto bangunan yang bagus.

”Kulineran yang enak-enak, agar lebih balance hidupnya,” jelasnya.

Tita merupakan mahasiswa yang berprestasi. Ia meraih juara 1 debat bahasa Inggris tingkat provinsi pada tahun 2018, ia juga meraih juara harapan tiga pada National University Debating Championship (NUDC) level rayon tahun 2019, juara 2 lomba ngajar Bahasa Inggris tingkat nasional tahun 2019, mendapatkan hibah PKM pengabdian masyarakat tahun 2020, penerima beasiswa LPDP tahun 2022.

”Dan semoga soon bisa earning new achivement di level internasional,” pungkasnya. (wen/ang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *