DesaKita.co – Pemerintah Desa (Pemdes) Pakel, Kecamatan Bareng, Jombang kembali menggelar tradisi budaya sebagai bentuk komitmen melestarikan adat lokal.
Minggu pagi (9/11), warga setempat menghelat Arak Tumpeng Ponco Tuk, berupa kirab budaya hasil bumi serta prosesi penyatuan air tuk dari lima sumber mata air di penjuru desa menuju Sendang Amertha Nagari di Dusun Curah Paras.
Kirab dimulai dari Lapangan Sasono Jemparing Manggilingan.
Di lokasi utama, air dari lima dusun yang telah diarak keliling kampung disatukan ke dalam satu Kendi Amerta Dewa Nagari.
Prosesi sakral itu dipercaya membawa keberkahan bagi seluruh warga Desa Pakel.
Beragam kesenian tradisional juga ditampilkan, di antaranya tari Bedoyo Mojo Kirono, tari Remo, tari Mayong, dan tari Sablah-Sablah.
Kepala Desa Pakel, Sudarmaji, menuturkan tradisi tersebut merupakan budaya turun-temurun dalam merawat sumber mata air atau patirtan sejak era Majapahit.
”Dengan merawat sumber mata air, maka keseimbangan alam akan terjaga, karena air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan,” tuturnya.
Sebelum kirab digelar, warga terlebih dahulu melaksanakan ritual Sipeng Kendi Amerta Dewa Nagari untuk mengambil air dari lima sumber mata air tiap dusun. Prosesi dilakukan bergiliran di kediaman para petinggi dusun.
”Pertama di Dusun Jemparing, kedua di Dusun Curah Paras, ketiga di Dusun Wiyu, keempat di Dusun Pakel dan kelima di Dusun Curah Rejo, kelima kendi berisi air tersebut lantas diinapkan di tiap dusun selama tiga malam serta melalui prosesi pembersihan mata air,” terang Sudarmaji.
Pemdes Pakel juga menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk menghidupkan kembali tarian asli Desa Pakel.
Mahasiswa ISI turut membawakan tari Kabariyah (kabar gembira), tari Ciprak Jemparingan (tari panahan), tari Bedoyo Amerto Nagari, serta tari Bedoyo Amerto Dewanggono.
”Tarian tersebut merupakan tarian asli dari Desa Pakel yang umurnya sudah ratusan tahun, khusus untuk penampil tari Bedoyo Amerto Nagari dan Bedoyo Dewanggono, penarinya harus gadis dan berpuasa selama tujuh hari,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan budaya tersebut dikemas dalam kalender tradisi bertajuk Annual Cultural Events 2025 Calendar of Traditional and Cultural dengan tagline Pakel Digdaya (Damai, Indah, Gemah dan Berbudaya).
”Kami selaku jajaran pemdes ingin terus memelihara tradisi lokal dan memperkuat riwayat sejarah tersebut bagi generasi penerus agar dapat terus lestari kedepannya,” ujar Sudarmaji. (dwi/naz)











