Potensi

Harga Jual Hanya Rp 2 Ribu Per Kg, Petani Ubi Jalar di Desa Pulorejo Jombang Merugi

×

Harga Jual Hanya Rp 2 Ribu Per Kg, Petani Ubi Jalar di Desa Pulorejo Jombang Merugi

Sebarkan artikel ini
DiPANEN: Mustajib, 55 salah satu petani ubi jalar di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro saat memanen tanamannya.

Desakita.co – Nasib petani ubi jalar alias ketela kini tengah diuji. Pasalnya, harga jual ubi merosot jauh dibandingkan musim panen sebelumnya.

Tahun ini, per kilogramnya hanya Rp 2.500 dari tahun sebelumnya Rp 5.000.

Seperti yang dialami Mustajib, 55 petani ubi jalar di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro.

Ia mengaku jika selama empat bulan ini merupakan masa terburuk bagi petani ubi.

”Panen kali ini sangat hancur harganya,” katanya.

Baca Juga:  Diklaim Menurun, Dinas Tenaga Kerja Catat Sepanjang 2023 Ada 29.000 Orang Menganggur

Baca Juga: Perawatan Lebih Mudah, Petani di Desa Kauman, Ngoro Jombang Pilih Tanam Ubi Jalar Saat Musim Hujan

Kondisi ini tentu sangat merugikan petani. Mengingat dalam satu hektare, biaya produksi dan perawatan dari tanam hingga panen mencapai puluhan juta.

Tajib menyebut, sebenarnya potensi panen bisa mencapai 17 hingga 20 ton.

”Kalau hasilnya sangat bagus. Hasil panennya juga  melimpah,” sambungnya.

Baca Juga:  Musim Bunga Durian, Warga Desa Carangwulung Jombang Lakukan Sambung Batang, Begini Caranya

Namun, ketika harga di pasar hanya di angka Rp 2.000 saja seperti saat ini, uang yang diterima petani tidak mencukupi untuk menutup biaya tanam.

Jumlah ini tentu sangat kurang jika dibandingkan modal yang dikeluarkan.

Baca Juga: Alokasikan Dana Desa, Ini Cara Jitu Pemdes Jombok Ngoro Jombang Tekan Angka Stunting, Hasilnya Turun Jadi Segini

”Rugi, ya meski barangnya bagus tetap rugi,” keluhnya.

Baca Juga:  Didik Agus Pramono, Warga Desa Godong Jombang Kini Jabat Kepala SMAN Ngoro, Yuk Intip Profilnya

Kondisi anjloknya harga ubi jalar salah satunya karena banyak petani yang tertarik menanam ubi saat harga ubi cukup bagus, yakni di kisaran angka Rp 5.000.

Saat itu, petani yang hanya memiliki lahan sempit pun terdorong ikut menanam.

Sehingga ketika semua panen di saat bersamaan, jumlah ubi melimpah dan membuat harga menjadi turun.

”Petani banyak tergiur, semua menanam. Jadi harganya murah,” pungkasnya. (yan/ang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *