Desakita.co – HARI Raya Idul Fitri atau 1 Syawal sebagai adalah Hari Raya ummat Islam atau dapat kita sebut sebagai hari kemenangan, sehingga sudah selayaknya disambut dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan.
Terlebih bila dalam sebulan penuh Ramadan ini mampu melaksanakan ibadah puasa sebagaimana diperintahkan Allah SWT.
Dan dicontohkan Rasul kita yaitu tidak hanya menahan diri dari makan dan minum tapi juga dari segala bentuk pelampiasan hawa nafsu pada waktu yang sudah ditentukan.
Namun demikian merayakan Idul Fitri bukan berarti “balas dendam” dengan makan minum yang serba lezat sepuas-puasnya sepanjang waktu, apalagi secara ekstrim mengekspresikan dengan berhura-hura.
Tidak pula harus ditandai dengan mengenakan baju baru, pakaian baru dan semuanya serba baru, meski itu tidaklah dilarang.
Terlebih lagi bila hanya untuk diri sendiri tanpa memperhatikan masyarakat di sekelilingnya.
Kalau terjadi hal seperti itu maka yang terjadi adalah sebuah penyimpangan makna Idul Fitri itu sendiri.
Yang harus kita ingat adalah bahwa Idul Fitri adalah sebuah momentum terbaik untuk bersilaturahim, berkunjung, saling bermaafan dengan seluruh handai taulan, kerabat dan tetangga.
Dan yang dapat lebih memberikan makna lebih yaitu ibadah horizontal kita dengan menjadikan sebagai Hari kedermawanan, hari penuh kasih sayang dan hari perdamaian.
Sesuatu yang kita syukuri adalah hal tersebut sudah menjadi budaya dan tradisi sebagian besar masyarakat negara kita.
Bahkan dari tradisi ini kemudian memunculkan fenomena “mudik” bagi keluarga kita yang karena sesuatu dan lain hal harus tinggal berada jauh dari keluarga dan kampung halaman.
Ini mungkin menjadi salah satu yang khas bagi umat Islam di Indonesia dan beberapa negara mayoritas muslim lain yang tidak kita temukan pada Idul Fitri di negara-negara lain.
Meski juga kadang terjadi hal yang tidak diinginkan oleh kita semua, seperti halnya musibah kecelakaan di jalan tol sebagaimana yang terjadi kemarin, semoga menjadi pembelajaran yang terbaik dan ucapan duka yang mendalam serta semoga senantiasa diberikan ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan.
Apabila kita memperhatikan fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat kita berkenaan dengan tradisi merayakan Idul Fitri ini, kita akan dapat menemukan beberapa keunikan.
Salah satunya, muncul antrian pencari lembaran “pecahan uang kecil baru” sebagaimana kita lihat beberapa hari sebelum Idul Fitri, di hampir semua bank dan tempat pertukaran uang baru.
Bahkan disebagian tempat, momen ini dimanfaatkan sebagian orang untuk menjadi “calo dadakan” bagi orang yang tidak cukup waktu untuk harus antri sebagaimana yang terjadi.
Untuk apakah uang pecahan baru tersebut?
Secara positif kita dapat memperkirakan bahwa lembaran baru itu akan dijadikan salah satu sarana untuk menjalankan tradisi mensyukuri nikmat dari Allah, berderma berbagi rizki dengan sesama.
Kakek untuk para cucu, paman kepada keponakan atau dari para dermawan untuk para tetangga dan kerabat yang memang seharusnya berhak untuk turut bergembira menyambut datangnya Idul Fitri.
Betapa luhurnya kegiatan ini, bila si pemberi dengan niat yang tulus karena Allah dan si penerima pun dengan senang hati menerimanya.
Kedermawanan adalah salah satu sifat baik yang dianjurkan dalam Islam.
Hal ini dapat dilihat dari beberapa ayat-ayat dalam Alquran yang memerintahkan kita untuk menunaikan zakat, sedekah dan menafkahkan sebagian dari harta kita untuk jalan Allah, memperdulikan para fakir miskin, menghormati tamu dll.
Yang berarti bahwa sebetulnya umat Islam yang baik haruslah umat yang berkualitas, mampu dan kaya, sehingga dapat menjalankan perintah Allah tersebut.
Semua hal di atas tentunya akan dapat dicapai dengan berikhtiar, bekerja keras dan tidak bermalas-malasan.
Karena kita yaqin bahwa Allah Maha Adil dalam segala hal, termasuk rezeki untuk semua mahluk-Nya yang memang mau bekerja dan berupaya, bahkan kepada seekor burung yang terbang mencari makan untuk anaknya yang tinggal di sarangnya, Allah memberi.
Mudah-mudahan kedermawanan tidak hanya berhenti di saat Idul Fitri namun terus berkelanjutan sebagai kebiasaan dan karakter diri kita, dan setelah melewati hari yang Fitri ini, kita terlahir menjadi orang yang lebih baik. Setidaknya dapat mempertahankan amalan baik yang kita lakukan selama Ramadan dan Idul Fitri, serta dipertemukan Ramadan akan datang dalam keadaan baik dan sehat. (*)
Oleh: Dr dr HM Zulfikar As’ad MMR (Rektor Unipdu Jombang)












