Asal-Usul

Asal-usul Desa Sidokerto Kecamatan Mojowarno Jombang: Dulunya Hutan Belantara, Dibabat Tiga Tokoh Islam Asal Demak

×

Asal-usul Desa Sidokerto Kecamatan Mojowarno Jombang: Dulunya Hutan Belantara, Dibabat Tiga Tokoh Islam Asal Demak

Sebarkan artikel ini
Kantor Desa Sidokerto Mojowarno

Desakita.co – Desa Sidokerto adalah salah satu desa di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang.

Dilansir dari laman sidokerto.desa.id, Desa Sidokerto dulunya adalah sebuah hutan belantara yang lebat.

Di berbagai belahan hanya terlihat pepohonan.

“Kemudian Desa Sidokerto yang masih berupa belantara di tebangi atau dibabat oleh beberapa tokoh yang dipelopori tiga orang tokoh islam yakni Mbah Jenggot, Mbah Nanggul, dan Mbah Kramat, yang mana beliau – beliau ini masih keturunan dari Raja Demak,” ujar Kepala Desa Sidokerto, Abdul Halim.

Baca Juga: Keren! Desa Sidokerto Mojowarno Jombang Punya PLTS untuk Tenaga PJU, Sejak 2021 Tak Pernah Lagi Bayar Listrik PLN

Baca Juga:  Gawat! Dalam Satu Hari Dua Pasien DBD di Jombang Meninggal Dunia

Ketiga orang tersebut dalam membabat hutan belantara bekerja bahu membahu dengan harapan mereka ingin mendirikan sebuah padukuhan dalam batasan lokasinya masing – masing.

Sehingga ketiga orang tersebut dalam mengelola hutan belantara menjadi sebuah dukuhan mempunyai karakter dan kelebihan masing – masing.

“Konon ketiga orang tersebut selain dikenal sebagai orang islam yang taat beliau ini juga dikenal sakti mandraguna. Saat ini ketiga makam tokoh babah dukuh tersebut masih terawat dengan baik,” tambahnya.

Adapun Desa Sidokerto ini dahulu kala adalah masih berbentuk pedukuhan yaitu Branjang, Budug, Ngemplak, Sekar Putih dan Jetak.

Baca Juga:  Warga Harus Waspada, Ini 3 Lokasi Perlintasan Kereta Api Tak Berpalang di Jombang

Baca Juga: Peduli Generasi Muda, Pemdes Podoroto Jombang Kembangkan Klub Sepak Bola Garuda Muda

Masing-masing dukuh tersebut juga memiliki cerita penamaan tersendiri.

Seperti Branjang nama ini diambil berasal dari nama burung betina.

Branjangan yang banyak ada di hutan belantara, di lain versi ada yang mengatakan bahwa nama Branjang berarti penahan.

Baca Juga: Produktif! Warga Desa Podoroto Jombang Manfaatkan Limbah Ampas Kelapa Jadi Cuan

Sedangkan nama Budug adalah berasal dari nama sebuah penyakit buduken (penyakit gatal/penyakit kulit) yang diderita oleh Mbah Keramat.

Baca Juga:  Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Lestarikan Tradisi Ruwah Desa, Sambut Datangnya Bulan Puasa

Lama kelamaan nama tersebut menjadi populer dikalangan pendukuhan seiring dengan perkembangan lahan yang telah dibabat semakin luas dan semakin padat pula penghuninya.

“Perkembangan desa berasal dari beberapa dukuhan ini ternyata menginspirasikan para tokoh untuk menyatukan dukuhan – dukuhan tersebut untuk menjadi desa yang bersatu, sehingga munculah Desa Sidokerto yang mempunyai maksud dan tujuan untuk bergabung dalam sebuah desa yang bahagia dan banyak rizkinya (Sido = Jadi dan Kerto = makmur, maju, sedang berkembang, ulung, sempurna – karena berlimpah ruahnya sandang dan pangan,” pungkasnya. (ang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *