DesaKita.co – Berada di tengah anak-anak muda dengan latar belakang dan karakter yang beragam menjadi pengalaman tersendiri bagi Junita Erma Zakiyah. Ia harus menyesuaikan diri ketika dipercaya memimpin Karang Taruna Kabupaten Jombang periode 2022–2027.
Sebelumnya, aktivitas organisasi Ita lebih banyak bersinggungan dengan kalangan perempuan melalui Muslimat NU. Namun, ketika masuk ke Karang Taruna, dia harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda. Terutama dalam pola komunikasi dan pendekatan kepada para pemuda.
”Awalnya saya merasa aneh. Biasanya berkoloni dengan ibu-ibu pengajian dan Muslimat NU, tiba-tiba harus berkoloni di Karang Taruna. Tetapi tidak sampai satu tahun, beberapa bulan kemudian saya mulai beradaptasi,” ungkapnya.
Bagi Ita, kunci membangun kedekatan dengan anggota organisasi adalah kemampuan menempatkan diri. Dia mengibaratkannya seperti bunglon yang mampu menyesuaikan warna dengan lingkungan tempat berada.
”Prinsip saya, di mana pun kita berada, harus menyesuaikan diri. Ketika bersama Muslimat NU, style-nya berbeda. Ketika bersama Karang Taruna, kita juga harus menyesuaikan diri supaya bisa diterima,” jelasnya.
Selain membangun kedekatan, Ita juga menanamkan disiplin, terutama dalam pelaksanaan kegiatan organisasi. Salah satu kebiasaan yang selalu dijaga, memulai rapat tepat waktu.
’’Kebiasaan disiplin membuat anggota terbiasa menghargai waktu,’’ ucapnya.
Dia tidak ingin anggota dari kecamatan yang jauh harus menunggu terlalu lama karena rapat baru dimulai setelah seluruh peserta datang.
Pendekatan yang dibangun selama memimpin organisasi itu perlahan menciptakan hubungan lebih dekat. Ita merasa diterima para pengurus dan anggota Karang Taruna di tingkat kecamatan. Bahkan, setiap Lebaran, sejumlah pengurus dari berbagai kecamatan datang bersilaturahim ke rumahnya bersama keluarga.
”Plandaan, Ngusikan, Kabuh, Wonosalam, Bareng, setiap hari raya mereka silaturahim ke rumah. Ada yang datang bersama istri dan anaknya. Menurut saya, itu tandanya saya diterima. Jadi bukan sekadar berorganisasi, tetapi sudah seperti keluarga,” ungkapnya.
Di luar urusan organisasi, Ita juga kerap menyampaikan pesan-pesan kehidupan kepada para pemuda. Dia mengajak mereka menjaga hubungan dengan orang tua, menghormati pasangan, serta membiasakan silaturahim.
Salah satu kebiasaan yang dia contohkan, mengajak teman-teman menjenguk anggota atau kerabat yang sedang sakit. Agar tidak merepotkan keluarga yang dikunjungi, setiap orang diminta membawa makanan sendiri untuk dinikmati bersama.
Ita menilai, perhatian sederhana seperti itu bisa memberi semangat bagi orang yang sedang menghadapi kesulitan.
”Organisasi bukan hanya tempat berkegiatan, melainkan juga ruang membangun kepedulian dan persaudaraan,” tegasnya. (wen/jif)











