Pemerintahan

Sinergi Kecamatan dan Desa, Pemdes Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam Sukseskan Pawai Ogoh-Ogoh

×

Sinergi Kecamatan dan Desa, Pemdes Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam Sukseskan Pawai Ogoh-Ogoh

Sebarkan artikel ini
LANCAR: Jajaran Forkopimcam Wonosalam, Kepala Desa setempat dan tamu undangan sesaat sebelum memberangkatkan pawai ogoh-ogoh, Rabu (18/3).

Desakita.co – Kerukunan antarumat beragama di lereng Gunung Anjasmoro kembali terpotret nyata. Rabu (18/3), jajaran Forkopimcam Wonosalam bersama Pemerintah Desa Wonomerto memberangkatkan pawai ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947.

Berpusat di Dusun Ganten, Desa Wonomerto, kegiatan ini menjadi simbol kuat sinergitas lintas sektoral. Perayaan ini melibatkan kolaborasi tiga desa sekaligus, yakni Pemdes Wonomerto, Galengdowo, dan Jarak, dengan dukungan penuh dari aparat kecamatan.

Baca Juga:  Diikuti 1.054 Peserta se Indonesia, Ajang National Creativity Competition SMA DU 1 Jombang Meriah

Kepala Desa Wonomerto Siswoyo menuturkan, momentum tahun ini terasa lebih spesial karena bersinggungan dengan kalender Islam. ”Hal ini dikarenakan perayaan Nyepi tahun ini dilaksanakan saat bulan suci Ramadan beberapa hari menjelang Idul Fitri,” tuturnya.

Meski warga mayoritas sedang menjalankan ibadah puasa, antusiasme menjaga kerukunan tetap terjaga. Warga muslim setempat tetap mengapresiasi dan menghormati prosesi umat Hindu, menciptakan harmoni yang natural di tengah masyarakat.

Baca Juga:  6 Kepala Desa di Jombang Tak Dapat Perpanjangan Masa Jabatan, Pj Bupati Sugiat: Belum Ada Kades Definitif

Bagi umat Hindu, Nyepi merupakan momen sakral untuk pembersihan diri dan refleksi terhadap alam semesta. Sebelum puncak penyepian, dilakukan upacara Tawur Agung Kesanga yang disertai pawai ogoh-ogoh.

Secara filosofis, ogoh-ogoh yang diambil dari bahasa Bali ogah-ogah (digoyang-goyangkan) merupakan representasi Bhuta Kala. Sosok ini melambangkan kekuatan alam dan waktu yang tak terbatas, sekaligus simbol unsur negatif dan sifat buruk manusia. Di akhir prosesi, patung-patung ini dibakar sebagai simbolisasi pemusnahan energi negatif dan kekacauan di lingkungan sekitar.

Baca Juga:  HUT Jawa Pos Radar Jombang yang ke-11, Momentum Perkuat Sinergitas, Wujudkan Rumah Besar Warga Jombang

Siswoyo bersyukur seluruh tahapan ritual berjalan tanpa kendala. ”Alhamdulillah seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan sukses berkat dukungan seluruh warga masyarakat dan seluruh pihak yang terlibat dalam kepanitiaan,” pungkasnya. (dwi/naz)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *