Pendidikan

Keren! Madrasah di Jombang Ini Bikin Kreasi 17 Motif Batik Lewat Kolaborasi Guru dan Sisiwa

×

Keren! Madrasah di Jombang Ini Bikin Kreasi 17 Motif Batik Lewat Kolaborasi Guru dan Sisiwa

Sebarkan artikel ini
Kepala MTsN 1 Jombang Purnomo saat menunjukkan batik kreasi siswa.

Desakita.co – MTsN 1 Jombang merupakan madrasah adiwiyata nasional.

Predikat itu menjadi inspirasi untuk menciptakan karya baru berupa motif batik.

Kini MTsN 1 Jombang telah memiliki 17 motif batik khas madrasah.

’’Identitas madrasah batik sudah melekat pada MTsN 1 Jombang.

Kita harus menciptakan pola-pola baru setiap tahun,’’ kata Kepala MTsN 1 Jombang, Drs Purnomo MPdI.

Yang terbaru, motif batik corak bunga wijaya kusuma.

Terinspirasi dari bunga wijaya kusuma yang banyak bergelantungan di atap MTsN 1 Jombang. Ini corak ke-17 dan telah dipatenkan.

Setiap batik karya siswa dan guru MTsN 1 Jombang memiliki ciri khas.

Baca Juga: Jadi Gudangnya Para Juara, Ini Cara MTsN 1 Jombang Raih Banyak Prestasi

Utamanya pada tulisan pego bertuliskan MTsN 1 Jombang yang ada di semua corak batik.

’’Memang dibuat sangat samar, jadi yang tahu hanya kita saja,’’ katanya.

Batik karya siswa dijadikan sebagai seragam identitas madrasah juga guru.

Baca Juga:  Sah! Masa Jabatan 296 Kepala Desa di Jombang Bertambah 2 Tahun, Ada yang Menjabat Hingga 2030

Tahun depan, MTsN 1 Jombang bakal membuat corak baru bertema jambu merah dan buah sirsak.

Itu karena kedua buah tersebut tumbuh subur di halaman MTsN 1 Jombang.

’’Kita cari tanaman yang khas di madrasah. Kemudian itu jadi corak batik,’’ jelasnya.

Batik juga menjadi salah satu ekstrakurikuler favorit siswa.

Baca Juga:  Keuletan Anik Muizzah Guru MTsN 4 Jombang Asal Desa Kwaron Berhasil Lahirkan 4 Karya

MTsN 1 Jombang juga merupakan sekolah ramah anak (SRA).

Untuk melindungi anak dari kekerasan dan bullying, MTsN 1 Jombang menciptakan suasana belajar yang nyaman, gembira dan menyenangkan.

Harapannya, sekolah juga dapat lebih kondusif. Hal ini berlaku baik bagi guru juga bagi siswa.

Untuk guru misalnya, membentuk kekompakan guru, MTsN 1 Jombang memberikan fasilitas yang memadai, meja dan kursi guru, ruangan dan toilet yang representatif.

Juga dilengkapi dapur yang bisa dimanfaatkan guru. Diharapkan, melalui dapur tersebut, tercipta kekompakan, kebersamaan antar guru.

Baca Juga:  Wow! Pemkab Jombang Siapkan Rp 129 Miliar untuk Gaji PPPK, Ini Rinciannya

Sementara untuk siswa, MTsN 1 Jombang membangun jiwa enterpreneur sejak dini.

Baca Juga:  Selamat! Kemenag Jombang Lantik 19 Kepala Tata Usaha, Berikut Rinciannya

Dengan melibatkan siswa dalam manajemen koperasi.

Koperasi dan kantin dikelola mandiri oleh siswa dan guru. Modal juga dari siswa yang hasilnya akan dibagikan ketika siswa sudah kelas 9.

Guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) juga diberikan kesempatan yang luas untuk berjualan di kantin dan koperasi.

Harapannya, kesejahteraan guru meningkat, 10 persen hasil yang diberikan ke madrasah juga bakal dipakai untuk menunjang fasilitas madrasah.

’’Kita berikan kesempatan untuk GTT dan PTT, agar kesejahteraan lebih meningkat, dan hasil yang masuk ke madrasah bisa dipakai untuk meningkatkan sarana prasarana madrasah agar lebih layak,’’ bebernya.

Baca Juga:  Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko Bebaskan Lahan Milik Warga, Kembangkan Pelestarian Cagar Budaya

Baca Juga: Keren! Belum Setahun Dirintis, Wisata Pasar Brantas di Desa Ngogri Jombang Raih Sejumlah Prestasi, Ini Rinciannya

Menurut Purnomo, empat tugas kepala sekolah, yaitu pengembangan madrasah, supervisi, manajerial dan kewirausahaan harus berjalan seimbang.

Sejak memimpin MTsN 1 Jombang kurang lebih dua tahun, Purnomo telah berhasil membangun sejumlah fasilitas. Salah satunya masjid madrasah yang dapat menampung lebih 1.000 jamaah.

Juga jalan madrasah serta fasilitas sekolah yang lebih representatif.

Utamanya dua ruang kelas billingual yang dibuat modern.

Baca Juga:  Warganya Torehkan Prestasi Seni Budaya Tingkat Jawa Timur, Pemdes Kedungbetik Jombang Berikan Apreisasi

Bahkan tak jarang, Purnomo sendiri yang membantu para tukang untuk bekerja.

’’Setelah siswa pulang, saya bantu-bantu nguli biar cepat selesai, dapat menekan biaya tukang.

Setiap hari saya bawa kaos, jarang pakai pakaian dinas. Karena memang dasarnya pekerja lapangan,’’ tegasnya. (wen/jif)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *