Desakita.co – Warga Desa Gedangan, Kecamatan Mojowarno Jombang sukses meraup cuan dari produksi arang.
Yakni, usmanto, 40, yang sudah menggeluti bisnis arang sejak 2010 lalu.
Rusmanto memantaakan halaman rumahnya sebagai tempat produksi arang kayu.
Ada empat tungku pembakaran di lokasi ini, dan seluruhnya berfungsi.
“Pembakarannya kan memang lama, jadi butuh banyak tempat supaya produksinya juga bisa banyak dan terus,” ungkapnya.
Rusmanto, biasanya menggunakan bahan kayu mangga untuk produksi arah. Jika tak ada, ia menggunakan kayu asam sebagai bahan baku alternatif.
Alasannya, jenis kayu tersebut lebih ulet saat dilakukan pembakaran dan tak menimbulkan ledakan.
“Kayunya dipilah dulu, biasanya terus digergaji dan dipotongi, baru kemudian dimasukkan tungku,” ungkapnya.
Dijelaskan, proses pembakaran arang sendiri berlangsung sangat lama.
Paling tidak, arang baru bisa dipanen sepenuhnya setelah menjalanai 10 hari pembakaran.
“Kalau sudah 10 hari, baru dibongkar terus disiram, kemudian baru dipisahi dan dibungkus,” ungkapnya.
Untuk satu tungku, ia menyebut hasilnya juga sudah cukup besar.
Dalam sekali pembakaran, ia bisa menghasilkan 30 karung besar arang ukuran 50 kilogram dari satu tungku.
“Satu tempat pembakaran, kurang lebih menjadi 30 karung arang,” jelasnya.
Harga arang hasil keuletan tangan Rusmanto ini pun sangat terjangkau. Ia hanya membandrol Rp 70 ribu saja per karung.
“Penjualan Rp 70 ribu per satu karung ukuran 50 kilogram,” pungkasnya.
Meski sudah punya pelanggan tetap, ia menyebut produksinya biasanya akan meningkat menjelang momen-momen tertentu.
“Produksi setiap hari sebenarnya, tapi tidak banyak, paling 1 tungku saja, karena kan harian itu pelanggan biasa mengambil 3-4 karung sajam,” ungkapnya.
Namun, saat momen khusus datang, ia harus memproduksi lebih banyak arang kayu. Seperti saat momen tahun baru atau momen Idul Adha.
Baca Juga: Musim Bunga Durian, Warga Desa Carangwulung Jombang Lakukan Sambung Batang, Begini Caranya
Dua momen itu, memang membuat banyak orang membutuhkan arang untuk bakar-bakar.
“Kalau pas ramai seperti lebaran idul adha kemarin bisa sampai 10 harung per orang mengambilnya setiap hari, jadi produksinya harus ditambah,” pungkasnya. (riz/ang)












