Asal-Usul

Asal Usul Desa Kedungturi Gudo Jombang: Dipercaya Karena Sosok Mbah Bau, Tumbuh Banyak Tanaman Ini

×

Asal Usul Desa Kedungturi Gudo Jombang: Dipercaya Karena Sosok Mbah Bau, Tumbuh Banyak Tanaman Ini

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Kedung. (Istimewa)

DesaKita.co – Desa Kedungturi merupakan salah satu desa di Kecamatan Gudo, Jombang, Jawa Timur.

Desa ini berada di wilayah selatan Jombang.

Banyak cerita asal usul Desa Kedungturi.

Salah satu yang dipercaya masyarakat, yakni Mbah Bau. Tokoh babat alas Desa Kedungturi.

Baca Juga: Asal-usul Desa Sumbermulyo Kecamatan Jogoroto Jombang: Dulunya Bernama Sumbersapon, Sudah Ada Sejak Era Penjajahan Jepang Tahun 1942

Baca Juga:  Parah! Jalan Cor Desa Terpencil di Jombang Ini Mulai Berongga, Ancam Pengendara yang Melintas

Konon nama desa itu tak lepas dari Mbah Bau. Di desa Kedungturi dulu ada sebuah kedung (waduk kecil) yang disisinya ada tanaman sayur turi.

Kedung dan pohon turi itu ada sekitar makam Mbah Bau.

”Sekarang sudah tidak ada, pohonnya juga tidak ada, tinggal cerita saja,” kata Kades Kedungturi Sugito.

Dulu, Desa Kedungturi ada tiga dusun, yaitu Dusun Turi, Dusun Kedungbentul, dan Desa Karangtengah. Namun sekarang Dusun Turi telah dipecah menjadi dua dusun, yaitu Dusun Turi 1 dan Turi 2.

Baca Juga:  Realisasikan Bantuan Gerobak UMKM, Cara Pemdes Mojowarno Jombang Tingkatkan Perekonomian Warganya

Baca Juga: Asal Usul Desa Mentaos Kecamatan Gudo Jombang: Dipercaya Karena Banyak Pohon Ini, Jadi Bahan Baku Sandal Bakiak

”Jaman dulu hanya ada tiga dusun, sekarang pemekaran ada empat dusun, Turi 1 yang di utara, Turi 2 yang di selatan, ada empat kasun totalnya,” imbuh dia.

Baca Juga:  Asal-usul Sejarah Desa Dukuhmojo, Kecamatan Mojoagung Jombang (2): Berkembang Jadi 5 Dusun, Pernah Dijabat 8 Kepala Desa Sejak 1899

Pembangunan saat ini dilakukan pemdes dengan mempercantik areal makam Mbah Bau. Membangun pagar yang cantik. Sehingga makam tampak terawat dan indah dilihat.

Sugito, menjelaskan, pembangunan pagar makam Mbah Bau dilakukan untuk merawat sejarah.

”Kami tidak ingin anak cucu melupakan sejarah, nguri-uri sejarah agar tidak punah kedepannya,” kata Sugito. (wen/fid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *