Potensi

Harga Jual Tinggi, Petani Tembakau di Desa Kabuh Jombang Ini Jutru Elus Dada, Ini Penyebabnya

×

Harga Jual Tinggi, Petani Tembakau di Desa Kabuh Jombang Ini Jutru Elus Dada, Ini Penyebabnya

Sebarkan artikel ini
Bandi, petani tembakau di Desa Banjardowo, Kecamatan Kabuh saat menjemur tembakau Rabu (11/9).

Desakita.co – Memasuki panen raya tembakau, petani di utara Brantas Jombang semringah.

Pasalnya, harga jual tembakau tinggi. Sayangnya, para petani harus menerima kenyataan rendemen tembakau turun cukup signifikan.

Diduga penyebabnya faktor cuaca yang terlalu terik.

”Sekarang ini 1 kuintal tembakau basah hanya menghasikan 10 kilogram tembakau kering, padahal tahun kemarin 1 kuintal tembakau basah bisa menghasilkan 13 kilogram tembakau kering,” ungkap Bandi, petani tembakau di Desa Banjardowo, Kecamatan Kabuh, Rabu (11/9).

Baca Juga:  Punya Potensi Budi Daya Patin, Pemdes Tengaran Jombang Tertarik Jadikan Ikon Desa

Baca Juga: Hore! 13.250 Petani Tembakau dan Pekerja Rentan di Jombang Bakal Tercover BPJS Ketenagakerjaan

Ditanya faktor yang memengaruhi turunnya rendemen tembakau turun hingga mencapai 3 persen, menurut Bandi disebabkan cuaca yang sangat terik di pengujung musim tanam.

Baca Juga:  Asal usul Desa Mentoro Kecamatan Sumobito Jombang: Didirikan Sosok Bernama Ki Ronopati, Ada Sejak Zaman Belanda

Hal itu membuat banyak daun tembakau yang mengering meski usianya belum cukup tua.

”Sekarang itu terlalu tinggi suhu udaranya ini kan tembakau cepat kering di pohon, jadi kualitasnya agak rendah,” lontarnya.

Beruntungnya harga jual tembakau kering melonjak tajam.

Baca Juga: Upaya Tekan Angka Pengangguran, Disnaker Gelar Pelatihan Content Kreator di Desa Kromong Jombang

Baca Juga:  Hadirkan Inovasi, Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito Jombang Raih Juara Harapan 1 Kapolres Award Desa Aman 2025

Sehingga petani tetap mendapatkan keuntungan lumayan.

Harga tembakau kering rajang meningkat tajam dibandikan harga tembakau kering rajang daritahun lalu.

”Harga tembakau kering rajang sekarang Rp 39 ribu per kilo, tahun lalu hanya sekitar Rp 32 ribu,” imbuhnya. (riz/naz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *