Desakita.co – Komoditas kopi telah memasuki panen raya di Kecamatan Wonosalam. Petani berbondong-bondong memanen dan menjual hasil panen mereka. Tak terkecuali Asmat, 60 warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam yang tampak sumringah karena hasil panen meningkat.
Ya, dibandingkan tahun lalu, panen kopi di kebunnya kali ini lebih baik. Apalagi, kopi robusta yang mendominasi di kebun seluas 4 hektare tersebut. Sejumlah pohon tampak dihiasi cherry kopi. Asmat pun bergegas memetik kopi yang berwarna merah dengan antusias.
“Perbandingan tahun ini dengan tahun kemarin memang ada perbedaannya. Tahun kemarin buahnya tidak terlalu banyak kira-kira hanya 1,5 ton, sedangkan panen tahun ini semua tanaman kopi yang saya tanam berbuah,” ujar dia.
Wilayah Desa Panglungan sejak dulu dikenal dengan penghasil kopi robusta. Kopi yang sudah ada sejak zaman Belanda ini dikenal memiliki rasa pahit yang pekat dengan aroma harum mirip kacang.
Baca Juga: Kreatif, Warga Desa Wonosalam Jombang Olah Kotoran Cacing Jadi Pupuk Kompos Organik
Ia menyampaikan, di kebunnya seluas 4 haktare tersebut, ada juga jenis varietas yang ditanam. Masing-masing robusta dan excelsa. Namun, dari kedua jenis itu, robusta yang paling mendomininasi. “Total lahan tanaman kopi yang saya miliki sekitar 4 hektare. Kali ini saya baru panen di lahan 1 hektar saja dengan jenis kopi robusta, sedangkan lainnya akan saya panen hari besoknya,” papar dia.
Untuk menjaga tanaman kopinya tetap subur, Asmat memanfaatkan penggunakan pupuk kompos. Penggunaan pupuk kompos memang dinilai lebih bagus untuk menyuburkan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman. Meski, ia mengaku tak sesekali mencampur penggunaan pupuk kimia untuk mencegah hama. “Tanaman juga memerlukan perawatan dengan melakukan pemupukan menggunakan pupuk kompos,” ungkapnya.
Baca Juga: Layanai Permintaan Lokal, Segini Harga Pupuk Kompos Cacing Buatan Warga Wonosalam Jombang
Selama ini, Asmat sudah berlangganan menjual hasil kopi yang dipanen secara gelondong alias asalan ke pengepul. Menurut dia, meski harganya tak semahal jika diolah sendiri dengan teknik petik merah, namun penjualan dengan cara gelondongan dapat lebih cepat memutarkan rupiah untuk kebutuhan lain.
“Harga kopi gelondong yang baru dipetik dari pohonnya dihargai oleh para pengepul seharga Rp 12.500. Jadi keuntungan saya dari buah kopi yang saya jual, 1 hektar lahan kopi menghasilkan 3 ton tinggal dikalikan Rp12.500,” pungkasnya. (ang)












