Desakita.co – Desa Bareng Kecamatan Bareng adalah salah satu desa di Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur.
Desa yang terletak di sisi selatan ini memiliki sejarah cukup panjang. Informasi yang dihimpun Desakita.co, Desa Bareng awalnya didirikan seorang sosok yang dikenal dengan nama Suro Negoro alias Mbah Suro Negoro.
“Berdasarkan cerita tokoh masyarakat desa, beliau sekeluarga mulai membuat perkampungan dengan cara membabat hutan.
Hutan yang dibabat tersebut langsung dijadikan pekarangan sekaligus perladangan, persawahan untuk memenuhui kebutuhan hidup,” ujar Sukriadi Kepala Desa Bareng.
Dijelaskan, Desa Bareng dibuka karena memiliki potensi sumber air, sumber makanan dan mudah dikembangkan.
Dengan syarat inilah keluarga mbah Suro Negoro membuka kampung disekitar telaga kecil yang saat ini disebut “Blandongan” kemudian diubah menjadi kampung “Bendungan”.
“Kampung Bendungan inilah yang sekarang menjadi Dusun Bareng.
Setelah perkampungan dibuka akhirnya mbah Suro Negoro mengajak 2 keluarga yang kepala keluarganya bernama “mbah Dariyek” sedang yang kedua tidak diketahui namanya.
Beberapa tahun kemudian kampung bendungan berkembang menjadi kampung yang besar dan luas,” jelas dia.
Seiring dengan perkembangan zaman kampung bendungan, akhirnya Mbah Suro Negoro meninggal.
Namun, sebelum meninggal Mbah Suro sempat mengubah nama kampung bendungan menjadi kampung Bareng.
Kata Bareng adalah kependakan dari sebutan “jembar dan mireng”. jembar artinya “luas” dan mireng artinya “tempat yang miring”.
“Berdasarkan pernyataan tersebut benar, karena Bareng berada tepat pada kaki Gunung Anjasmoro yang sekarang merupakan Desa terluas di Kecamatan Bareng.
Untuk mengenang jasa-jasa Mbah Suro Negoro, Mah Dariyek dan satu jawatnya tersebut, para pembabat alas tersebut dimakamkan disebelah timur pasar Bareng, tepatnya dipekarangan keluarga Lahuri warga setempat.
Namun, sayangnya ketiga makam itu sekarang sudah dibongkar tepatnya sekitar tahun 2000 silam.
Meski demikian, sepeninggal tokoh tersebut, Dusun Bareng berkembang kearah barat, utara, dan selatan.
Wilayah baru tersebut terbagi menjadi empat Dusun diantaranya yang bagian barat Dusun Mojounggul dan Dusun Kembang Tangjung, sebelah utara Dusun Kedungpring.
Sedangkan bagian selatan adalah Dusun Kuwik. Keempat Dusun inipun namanya diambil dari legenda tempat asalnya.
“Kembang Tanjung tempat ini banyak terdapat bunga tanjung, yaitu jenis kembang yang masuk kelas kemuning yang bunganya harum sekali.
Untuk memudahkan nama maka tempat itu disebut Dusun Kembang Tanjung,” terangnya.
Sedangkan, Kedungpring tempat ini banyak terdapat pring (Bahasa Jawa bambu) dan sebuah bendungan air atau Kedung (Bahasa Jawa).
“Akhirnya untuk memudahkan sebutan tempat itu dinamakn Dusun Kedungpring.” jelas dia.
Hanya Dusun Kuwik yang tidak memiliki kisah. Sebab, sampai saat ini belum ada yang dapat menguak mengapa dinamakan Kuwik.
Perkembangan wilayah Bareng meluas ke arah Timur. Perkembangan kearah Timur ini bahkan lebih luas dan terbagi menjadi tiga Dusun yaitu Dusun Banjarsari, Dusun Kedunggalih, dan Dusun Tegalrejo.
“Dusun Banjarsari, asal mulanya Dusun tersebut bernama Dusun Kedungwinong. Karena tempat itu terdapat sebuah sungai yang aliran airnya tidak merata, ada yang dalam ada yang dangkal, tempat yang dalam disebut kedung, sedang ditepi sungai tumbuh pohon winong sejenis kayu tahun yang besar-besar,” papar dia.
Untuk memudahkan sebutan tempat tersebut disebut Kedungwinong, sekitar tahun 1960-an Dusun itu berganti nama Banjarsari.
“Nama tersebut diambil dari kata “Banjar“yang artinya suatu lahan garapan yang luas sedang “sari“ tempat tersebut menghasilkan hasil bumi yang banyak yang dianggap sebagai sari dari banjar tersebut,” beber Sukri.
Sementara itu, ada pula Dusun Kedunggalih. Dusun Kedunggalih diambil dari nama Galih atau sebutan batang kayu yang paling dalam dan tua, warnanya coklat tua dan memiliki kekuatan yang lebih dari bagian kayu lainnya.
“Sedangkan pohon-pohon besar tersebut tumbuh sebagai hutan ditepi sungai dan kalau ditelusuri sampai hulu sungai tersebut bermata air digunung anjasmoro termasuk wilayah kecamatan Wonosalam. Di Dusun Kedunggalih inilah terdapat sebuah tempat yang disebut ”Alas Boto”.
Alas artinya Hutan, boto nama lain dari Batu bata. Pada zaman Belanda hutan tersebut digunakan warga membuat Batu Bata yang akhirnya tempat tersebut disebut alas Boto,” papar dia.
Terakhir, ada Dusun bernama Tegalrejo. Dusun ini berdiri karena tuntutan ekonomi dan penduduk mulai padat. Akhirnya penduduk membuka hutan sebelah selatan Dusun kedunggalih.
“Lahan hasil rambahan baru ini digunakan sebagai Tegalan yaitu lahan pertanian yang menggunakan tanah kering.
Mulanya tempat tersebut hanya digunakan lahan pertanian saja tetapi pada akhirnya lahan tersebut dijadikan tempat hunian.
Karena tegalan tersebut yang dulunya sepi menjadi Rejo yang artinya ramai maka Desa Bareng terdapat delapan wilayah dusun.
Masing masing, Dusun Bareng, Mojounggul, Kuwik, Kembang Tanjung, Kedunpring, Banjarsari, Kedunggalih, dan Tegalrejo.
“Dusun Bareng dijadikan pusat pemerintahan Desa karena diambil dimana cikal bakal terbentuknya 7 (tujuh) dusun lainnya dimulai dari Dusun Bareng,” pungkasnya. (ang)












