Asal-Usul

Jangan Coba-Coba Jual Nasi di Desa Ini, Jika Nekat Ini Akibatnya

×

Jangan Coba-Coba Jual Nasi di Desa Ini, Jika Nekat Ini Akibatnya

Sebarkan artikel ini
Kantor desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Jombang

DesaKita.co – Setiap desa, biasanya memiliki kibaiasaan atau mitos unik yang masih terjaga. Seperti yang diyakini banyak warga Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Jombang.

Warga di Desa Pagerwojo, memegang mitos tak boleh berjualan makanan khususnya nasi di seluruh wilayahnya.

Jika dilanggar, diyakini bisa membawa nasib buruk bagi pelakunya atau bahkan tak akan laku.

Tak heran, jika anda mengunjungi desa ini, anda tak akan menemukan satupun pedagang nasi.

Baca Juga:  Berbagi Kebahagiaan, Warga Shiddiqiyyah Serahkan 140 Unit Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Shiddiqiyyah 2025

Kalaupun ada warung, mereka juga tak akan berjualan nasi. Beberapa diantranya memilih berjualan bakso, atau lontong atau makanan lain selain nasi.

Irsyad, salah satu warga menceritakan hal ini. Menurut Irsyad, baik warga asli maupun warga luar daerah, tidak boleh berjualan nasi di Desa Pagerwojo.

Hal inipun masih berlangsung hingga kinni, dibuktikan dengan tidak ada warung nasi di Desa Pagerwojo sampai sekarang.

“Jadi menurut kepercayaan sebagian warga, ini juga berasal dari Sayid Abd Rohman, yang memberikan semacam kutukan begitu,” ungkapnya.

Baca Juga:  Libur Panjang Penumpang Bus di Terminal Kepuhsari Desa Keplaksari Jombang Tetap Sepi, Ini Penyebabnya

Sayid Abd Rohman sendiri, adalah seorang ulama sekaligus orang yang diyakini sebagai pembabat dan pembuka desa.

Makamnya, juga dikeramtakn warga. Irsyad sendiri, adalah juru kunci makam itu.

Diceritakan Irsyad, awal dari mitos tak diperbolehkannya berjualan nasi itu, adalah saat Sayid Abd Rohman saat itu sedang merasa kelaparan.

Baca Juga:  KH Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri Asal Jombang Jadi Legislatif Terpilih Pemilu Pertama 1955, Begini Sejarahnya

”Dulu ceritanya Sayid Abd Rohman lapar, kebetulan ada yang berjualan nasi. Akan tetapi saat itu uangnya kurang,” lanjutnya.

Meski sudah berupaya meminta dengan sopan karena uangnya kurang, namun sang penjual nasi tetap enggan memberikan makanan itu.

Hal itulah yang membuat ulama ini marah dan kemudian melontarkan semacam doa atau kutukan.

“Dari situlah, apabila ada yang berjualan nasi selalu tidak laku,” pungkas Irsyad. (yan/riz)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *