Desakita.co – Produksi tas anyaman pandan bikinan warga Dusun Karanggebang, Desa Munungkerep Kecamatan Kabuh tetap diminati.
Nur Hadi, 32 salah satu pelaku UMKM tas anyaman pandan mengatakan, semua proses produksi tas dikerjakan secara manual dan tradisional.
Mulai memetik daun pandan di kebun, penjemuran dan proses penganyaman.
”Seluruhnya dikerjakan tradisional oleh warga setempat yang notabene ibu-ibu,’’ papar dia.
Menurutnya, selain unik, tas dari anyaman pandan juga mendukung upaya pemerintah menekan penggunaan sampah plastik.
Selain ramah lingkungan, pemanfaatan tas parsel lebaran dengan anyaman pandan juga dapat mendukung UMKM lokal.
”Apalagi ini juga kita beri anti jamur, jadi bisa tahan lama,’’ papar dia.
Harga tas anyaman bambu bikinan Nur Hadi bervaritif. Mulai Rp 10 ribu, 15 ribu hingga Rp 75 ribu.
Semua itu, tergantung besar kecil dan tingkat kesulitan dalam pembuatan.
Baca Juga: Miliki Sentra Anyaman Bambu, Pemdes Gedangombo, Ploso Jombang Fasilitasi Melalui BUMDes
”Misalnya yang ukuran kecil polos ini Rp 10 ribu. Kalau agak besar dengan sablon ini Rp 15 ribu dan yang bagus ini Rp 75 ribu,’’ papar dia.
Pemasaran tas anyaman pandan bikinan Hadi sudah tembus ke berbagai daerah di Indonesia.
Mulai Bekasi, Surabaya, Jakarta. ”Paling banyak di tiga daerah itu, karena sudah punya pelanggan,’’ pungkasnya. (ang)












